Can not Buy by Money

November 6th, 2007 by dedman

bLove,

Friends,

Hapiness,

Love,

Chances,

Understanding,

Time,

Future,

Trust,

Friends,

Experiences,

Happiness,

Love,

Truth,

Memory,

True Friends,

Never Ending Happiness,

Honest Love,

YOU….

and you tell me…

Ayah-Ayah Kami

August 22nd, 2007 by dedman

Oh Bapak oh Papa,
Usiamu yang menginjak senja, bagimu adalah sebuah awal yang baru.
Kau terlalu banyak perih mengeluarkan tenaga, demi anak-anak bahagia.
Tanpa kaupikirkan batas stamina, sampai kau jatuh tak berdaya

Oh Bapak oh Papa,
saatnya Bapak beristirahat.
Biarkan kami yang meneruskan mimpimu, yang telah kautanamkan pada kami.
Hati kami tidak tega, melihat wajahmu sayu menatap hampa.

Pulang kami semoga sedikit membawamu bahagia
Di tengah cobaan yang sedang menimpa

Oh Bapak oh Papa,
jikalau memang sekarang Bapak sudah lelah
Itupun sudah cukup bagi kami.
Hidupmu telah kauabdikan pada Tuhan dan keluargamu
tak ada jasa yang lebih baik daripada itu.

Oh Bapak oh Papa,
Mimpi ini,
Bahagia ini,
Keberhasilan ini,
Karena kau yang menanam, kau juga berhak menrima.

Cintaku

March 23rd, 2007 by dedman

Cinta yang timbul bukan karena bersama
Bukan pula karena terpisah
Cinta datang saat kau tak sanggup mengatakan
Karena apa kucinta padamu

Karena cinta tak butuh alasan
Cinta tak mengenal Sebab

Jika aku cinta padamu karena kau cantik, ku akan meninggalkanmu setelah kamu tua
Jika aku cinta padamu karena kamu pintar, ku akan meninggalkanmu di saat kau pikun
Jika aku cinta padamu karena kau lincah, ku akan meninggalkanmu setelah kau lumpuh
Jika aku cinta padamu karena kau baik, ku akan meninggalkanmu jika kau marah

Aku cinta kamu karena Kamu
Dan cukup bagiku, kau tahu aku mencintaimu seperti kau mencintaiku

Tidak akan LAGI

December 19th, 2006 by dedman

Pertama kali dalam hidupku

Aku tidak lagi menenatikan hari itu

Bahkan hari ini aku melupakannya

Hingga dia datang menghampiri

Menyapa dengan hentaknya

Dudukkan aku tersadar

bahwa masa itu tetap akan datang

Dalam sadarku di wilayah sepi ini

hanya tanganku keras mengepal

menangis tanpa tengadah

Meratapi kegalauan tinggal terlupa sebuah peristiwa

Hari ini aku akhirnya melupakannya

yang harusnya akan selalu kuingat

bahwa aku pernah takut untuk sampai melupakan

Satu titik waktu

saat aku harus berintrospeksi diri

Belum…aku belum sempat melakukannya

adalah takut yang ada sekarang ini

semoga ini bukan awal sebuah kegelapan

kealpaan itu tak akan kuulang

janjiku untuk terus mengingat

mengevaluasi

berintrospeksi

to fix it out

LAGI…

dan nanti

tak terulang LAGI

don’t give up

berkuranglah LAGI

LAGI…kunanti…LAGI

Rindu Rintik Hujan

November 22nd, 2006 by dedman

Datanglah rintik hujan
Gerah sekali menunggu turunmu

gerimis lembut jatuhmu, membawa harum bau tanah tercampur air
kau dinginkan amarah sang bumi, yang terinjak manusia laknat
oleh nafsu dan egoisme dalam hidupnya

Oh, datanglah rintik hujan
agar tercipta asa bagi kaum bertani, yang masih mengangankan irigasi
apakah kau tidak merindukan senyum mereka
menatap butirmu melaju turun, dalam sebuah garis lurus selurus hati mereka

Rintik hujan yang kunanti
Tidakkah kau ingin menyaksikan keriangan bocah kecil
yang senantiasa menyambutmu dengan suka cita
Bergurau denganmu tanpa menghiraukan kesehatan mereka

Datanglah rintik hujan
Turunmu mungkin membawa bencana
Tapi engganmu juga membawa bencana
Kau tak bisa dicegah untuk turun, ataupun untuk tidak turun
Harusnya kami, manusia, bisa menyikapi alam ini secara lebih bijaksana
Atau kebodohan kami lah yang menyebabkan semua bencana.

Pinangan

October 10th, 2006 by dedman
Berujung dalam takluk perjuangan yang memikul ego,
Takluk di depan angkuhku, atas lembutmu
Pahammu adalah siraman kesejukan
yang tak perlu diartikan oleh tatapan mata, atau anggukan kata "ya"
Penantian yang mungkin telah ada sejak ku dilahirkan
Kau akhirnya menjadi yang pertama
dan kuingin kau menjadi yang terakhir bersamaku
Layaknya adikku yang selalu membuatku ceria,
seperti kakakku yang senantiasa mengingatkan,
atau ibuku yang bersedia merawatku dengan ikhlas,
bahkan menjadi sahabatku yang mengisi semua ruang kosong dalam hidupku,
sebagai rekanku dalam merencanakan jalan menuju akhir,
Kau bukanlah sekedar koki yang memasakkan makanan dengan cinta,
menjadi bukan sekedar jam wekker yang membangunkanku menunaikan panggilannya,
tak hanya nyonya rumah yang menjadi perhiasan utama istanaku,
Ibu dari anak-anakku,
Pendampingku di kala aku jatuh tersungkur,
Pemikulku di saat aku tak berdaya,
Kaulah langit pembenturku di saat aku melambung tinggi,
pengikat kakiku di bumi.
Penyejukku dikala aku panas, penghangatku dikala aku dingin.
Ingin kupinang dirimu setelah Ramadlan ini berlalu,
Kupinang kau dengan segala rendah,
"Alhamdulillahi Bismi Rabbika…"

Seberapa banyak syukur

August 24th, 2006 by dedman

Tersadar dalam jenak, merampas nyaman yang sedang dinikmat

Tiba-tiba bertanya, apa yang sudah dilakukan

Haruskah melakukan sesuatu yang besar

Atau yang hebat seperti kekaguman yang sering melanda

Hujaman tanggung jawab yang terkadang terasa lebih berat dari tubuh, pikulan yang sebenarnya mengharap sejak kecil

Drama ini sebenarnya bukan tiada arti. Ada makna dan arti tersirat, yang bisa memberi arah, hiburan bagi yang lain atau tontonan murahan bagi kaum berada

Tindakan nyata memberi asa, dari pada diam menatap indah. Perubahan adalah suatu hal yang pasti.Ada perih di sana, ada sejuk di sana, ada apa di sana

Orang miskin mengais sampah di depan rumah.Apakah anggapmu itu najis, atau itu iba. Sebagian orang berkata itu teguran, pengingat bahwa ada yang lebih beruntung

Pesakitan yang mendekam di balik jeruji hukum punya cerita lain. Tindakannya bukan untuk membela diri. Mempertahankan hidup adalah dalih yang paling populer. Ketika harus dihadapkan pada beratnya mencari rejeki halal. Anaknya butuh makan, Istrinya sudah meninggalkannya. Karena itu dia memberi contoh yang tak patut. Apakah anggapmu itu najis, atau itu iba. Sebagian orang berkata itu teguran, pengingat bahwa ada yang lebih beruntung

Penjaja koran sore mengejar bus kota, berebutan dengan penjual barang serba lima ribu. Yang lebih dulu masuk bus, punya kesempatan pertama membujuk orang mengeluarkan rupiah. Apakah anggapmu itu najis, atau itu iba. Sebagian orang berkata itu teguran, pengingat bahwa ada yang lebih beruntung

Telpon genggam insinyur berdering memanggil saat empunya baru saja meminta potongan pengadaan barang lagi. Ternyata anaknya sakit lagi, sekali lagi menguras uang yang selama ini dia kumpulkan dengan segala cara. Apakah anggapmu itu najis, atau itu iba. Sebagian orang berkata itu teguran, pengingat bahwa ada yang lebih beruntung

Kadang ada yang harus merasa lebih bersyukur. Cukupkah tamparan ini untuk terus disaksikan, agar kau tak berhenti bersyukur.

Apa Kabar Bapak

May 16th, 2006 by dedman

Dear Bapak, Lama tak bersua.

Saya dengar dari si Tipi, bapak lagi sakit keras.

Sakitnya bapak bikin orang pada panas.

Banyak yang kirim kritik pedas.

Ada juga yang bilang, dosa bapak udah impas.

Kalo saya pikir kasihan juga bapak ini.

Dulu begitu disegani, sekarang sibuk dimaki.

Ada juga yang coba menghindari.

Bapak sayang,

Lama juga bapak dipuja, sebagai orang yang berkuasa.

Sebentar kemudian bapak jatuh, menjadi orang yang sangat rapuh.

Bapak sekarang benar2 menjadi contoh hidup,

bagaimana tanggung jawab itu harus diemban.

Terlepas dari kemajuan yang Bapak bawa,

Banyak juga kebusukan yang tidak tertinggal.

Tidak semua Bapak lakukan sendiri,

Karena dosa memang harus dibagi-bagi.

Tidak semua yang Bapak lakukan itu buruk,

tapi banyak hal buruk pula yang dilakukan sahabat dan familimu, tanpa bisa kaucegah.

Jadi kasihan, jika bapak sekarang dihujat sendiri.

Tapi lucu juga mereka yang tidak mengingatmu lagi.

Sekarang bapak sudah banyak ditinggal pergi,

hanya karena nama baik perlu diselamatkan.

Mungkin bapak perlu menulis buku,

bagaimana perjalanan hidup bapak dalam pesakitan.

Renungan bapak bisa jadi teladan kami,

tentang bijakmu, busukmu, dan tangismu.

Semoga bapak lekas sembuh,

dan mulai bisa menulis buku.

Akhir Cerita

April 27th, 2006 by dedman

Jalan manusia tak bisa dihitung dari fungsi waktu

Semakin besar bilangan umur,

ternyata tak mencerminkan kedewasaannya

Jumlah usianya tidak menandakan durasi lama hidupnya

Bukan saat gembira panggilan itu datang

Bukan pula saat kaya

Dia menjemputmu kapan pun jika Dia berkehendak

Siapkah diri ini saat menghadapi panggilan itu

walaupun tak bisa berkelit lagi waktunya pasti datang

Dia telah mengingatkan datangnya ajal itu

Dari saudaraku yang paling baik

Dari orang tuaku yang paling tersayang

Dia memanggil tanpa melihat kondisi terbaik keimanan

atau sudah cukupkah amal ini

Tapi tidak segera datang juga kesadaran

atas ajal yang akan datang itu

Ya Allah, semoga kau panggil aku dan saudara2ku dalam keadaan suci

Ampuni orang2 yang mendahului kami

Lapangkan jalan mereka

Dan berikanlah bagi kami kesadaran untuk selalu mengingat ajalmu

-Untuk Caca e39, kauingatkan kami atas kebesaran kuasaNYA-

-we love you-

BANGSA YANG BELAJAR (DAN) MEMBANGUN

April 2nd, 2006 by dedman

Mendung Kelabu di langit kota ini,
bukanlah awan yang selalu membuat kita sedih
Tapi dia adalah tantangan yang harus kau pikirkan
langkah terbaik apa yang bisa kau berikan

Cemohan di media asing itu bukanlah hinaan
Tapi itu harga diri yang harus kau perjuangkan
Jangan dilawan dengan pedang
Karena kita masih punya akal

Harta kita yang mereka bawa lari
bukan untuk kita ratapi
Tanyakan pada diri sendiri
Kapan kita bisa memilikinya sendiri

Aku, kamu, kita berjuang bukan hanya untuk mendapat sesuap nasi
Kepentingan yang tidak perlu coba singkirkan sejenak
Aku ingin bicara denganmu bukan tentang kita berdua

Berjuta orang menggantungkan harapan
kepadamu, mungkin kepadaku, mungkin kepada teman2 kita
atau bahkan juga anak cucu kita

Bukan untuk menyalahkan apa yang telah diperbuat ayahmu
Atau mungkin kesalahan perjuangan kakekku
Bahkan tingkat kognitif Nenek Moyang kita

Aku harus bertanya kepadamu
Sudahkah engkau memikirkan itu semua
Aku sering mencoba berpikir
Tapi aku butuh kamu, kamu dan teman2mu
Kamu butuh aku, aku dan teman2ku

Aku tidak ingin sejengkal pun tanah ini
Tidak memberi manfaat buat bangsaku

Bangsa ini sudah lelah dengan segala carut marut
Apa engkau tidak risih dengan keadaan ini
Bagaimana mereka mau ikut memikirkan negeri ini
Untuk hidup sendiri saja kadang harus kau persulit

Tapi aku yakin engkau pun sedang belajar
Aku juga sedang mulai belajar
Kuharap sudah banyak orang yang ikut memahami
Belajar untuk belajar dan selalu belajar

Karena tiap orang adalah guru
Tiap tempat adalah sekolah
Tiap kejadian adalah pelajaran
Tinggal bagaimana kita mengambil hikmah itu semua